27 Jul 2009

TUKANG BECAK YANG NAIK HAJI

Tidak semua sosok penarik becak berada dibawah garis kemiskinan dan kumuh. Haji Wahid (56 th), penarik becak, yang biasanya mangkal di kawasan Gunung Pereng Kec. Cihideung, Tasikmalaya, adalah sosok lain dari seorang penarik becak. Selain santun, Wahid ulet dan rajin menabung. Buah dari semua itu, ia bersama istrinya Hj. Siti Hujaenah, bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 2004."Saya bersyukur, karena dari hasil cucuran keringat ini, bisa naik haji dan menyekolahkan anak," kata Wahid saat ditemui di Terminal Bus Tasikmalaya, Jumat (5/5). Pada tahun 1972 Wahid memulai bekerja sebagai penarik becak di Gunung Pereng. Ia mendapatkan becaknya dari hasil kredit yang dibayarkannya setiap hari. "Waktu itu saya mencicil Rp150,00/hari. Cicilan itu, saya bayar selama kurang lebih setahun," kata warga Jl. Paseh Kota Tasikmalaya ini. Lunas membayar becak, ayah tiga anak ini mulai menabung untuk membeli tanah buat tempat tinggalnya. Berkat kerja keras siang dan malam menarik becak, serta kedisiplinannya dalam menggunakan uang, ia mampu membeli tanah dan membangun rumah. "Sebagian dari hasil menarik becak, saya tabungkan untuk berbagai keperluan," katanya. Lalu ia kembali mengambil cicilan becak, dengan harapan bisa disewakan kepada rekan lainnya. Ternyata cara itu cukup menambah penghasilan bagi Wahid. Dari satu becak, lalu sampai akhirnya tahun ini, ia bisa memiliki 40 becak. "Di antaranya, 25 becak milik saya disewakan dengan tarif Rp 4.000,00/hari. Sisanya, saya kreditkan kepada orang lain," ujarnya. Tidak hanya itu, sejak punya dua becak, keluarga ini menabung agar bisa naik haji. Tak ada target harus berapa besar tabungan terisi setiap bulannya. Wahid hanya menyisihkan uang dari hasil usahanya, setelah digunakan untuk makan serta kebutuhan sehari-hari. Ia juga berhasil menyekolahkan ketiga anaknya dengan baik. Anak pertama, Wawan lulusan Diploma 2, adiknya Eva jebolan SLTA. Si bungsu Dedi, masih sekolah di SMA. Setelah becaknya bertambah, ia akhirnya mendirikan kamar kontrakan di daerah Gunung Pereng, Kota Tasikmalaya. Saat ini, ada 25 kamar yang disewakan oleh Wahid. Setiap kamarnya, disewakan Rp 85.000,00/bulan. "Lumayan untuk menambah penghasilan," katanya. Setelah merasa tabungan yang dikumpulkannya selama 30 tahun jumlahnya cukup, pada tahun 2003 ia mendaftarkan diri untuk berangkat haji beserta istrinya. Pada tahun 2004, Wahid bisa pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima. Perasannya, benar-benar bahagia karena sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, bisa menjadi kenyataan ia bisa pergi ke tanah suci. Hingga kini sekarang Wahid yang rajin ibadah ini, tetap mengayuh becak. Sehari ia kadang mendapatkan Rp 10.000,00 hingga Rp 20.000,00. Tapi kadang dia juga sama sekali kosong. Tapi semua itu, dijalani dengan kesabaran, keuletan, dan kerja keras. Wahid bisa membuktikan bahwa penarik becak juga bisa hidup dengan baik. Yang menarik perhatian kita adalah cara Pak Wahid meningkatkan penghasilannya. Dia tidak bekerja mengayuh becak 24 jam.., dan pasti dia tahu itu tidak mungkin. Tapi yang dilakukannya adalah menyisihkan dari penghasilannya untuk mulai berinvestasi. Pertama dengan mengambil kredit becak lagi, untuk kemudian disewakan kepada orang lain. Selanjutnya bahkan dia membeli becak, untuk dikreditkan kepada orang lain. Artinya, Pak Wahid sudah membuka usaha LEASING becak. Tahap selanjutnya dari penghasilannya tersebut dia membeli tanah untuk membangun rumah/kamar kontrakan. Coba kita hitung saja, sekarang kamar kontrakannya ada 25 buah, disewakan Rp 85.000,00 per bulan. Berarti kalau sewaan terisi penuh Pak Wahid akan memperoleh penghasilan 25 x Rp 85.000,00 = Rp 2.125.000,00. Waw.., S1 fresh graduate aja gajinya ga sampe segini. Dan Pak Wahid sebetulnya tidak harus bekerja lagi, dia tetap akan menerima penghasilan dari sewaan kamar dan sewaan becak miliknya. Namun, Pak Wahid tetap juga mengayuh becak. Ga tau kenapa..? Apakah itu adalah His Calling? (ya kan Pak Harry?) Saya tidak tahu apakah Pak Wahid membaca buku Robert Kiyosaki? Atau sempat membaca bukunya Valentino Dinsi, atau bukunya Safir Senduk? Saya kira tidak. Pak Wahid mulai menarik becak sejak tahun 1972. Buku-buku tersebut belum terbit di Indonesia. Tapi Pak Wahid sudah memiliki satu kecerdasan lain yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain, yaitu Kecerdasan Finansial. Saya sendiri merasa malu.., bisa jadi saya memiliki penghasilan yang lebih besar dari Pak Wahid. Tapi saya hingga saat ini belum memiliki aset yang bisa dibilang benar-benar aset. Mungkin diantara anda juga mengalami hal yang sama, bekerja tiap hari, kok gaji ga cukup-cukup ya..? Kok saya puluhan tahun terus bekerja, belum juga menunaikan ibadah haji dan belum punya aset..? Sepertinya kita harus mulai bercermin dari Pak Wahid. Ya kan
*** from milis***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar