30 Jul 2009

TAWAKAL, JALAN KELUAR SEMUA MASALAH

" Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah membuat ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."(QS.Ath-Thalaq : 3)

Manusia, dengan hanya mengandalkan kekuatan dirinya tidak akan mampu meraih berbagai kemaslahatan, tidak pula mampu menghindar dari berbagai kemudharatan.Keterbatasan kemampuan,namun begitu banyak kebutuhan yang mereka perlukan.Lemahnya pertahanan, sementara bahaya yang mengancam begitu besar. Untuk itu mereka membutuhkan kekuatan besar untuk mencukupi semua kebutuhan itu.
Sayangnya banyak yang salah dalam menentukan pilihan, kekuatan mana yang hendak diandalkan. Mereka menyandarkan nasibnya kepada sesama makhluk yang hakikatnya sama lemah seperti dirinya. Pergi ketukang ramal, meminta diruwat paranormal, atau meminta pertolongan kepada jin. Tidak sedikit pula yang bergantung kepada makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia, atau bahkan benda mati yang tidak bisa mendatangkan manfaat. Seperti orang yang mengeramatkan kerbau, mempertuhankan pohon besar atau memakai jimat dan rajah.
Padahal " Barangsiapa yang menggantungkan nasibnya kepada sesuatu, maka nasibnya akan diserahkan kepadanya." Seperti seseorang yang meyakini suatu benda sebagai obat, dan itulah semata yang membuat dia sembuh atau terhindar dari penyakit, maka nasibnya akan diserahkan kepada benda itu. Allah tidak akan membantunya, padahal segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah.Bisa pula maknanya adalah barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka nasibnya akan diserahkan kepada jimat tersebut. Kedua makna hadits tersebut disebutkan oleh Almanawi dalam kitabnya Faidhul QadirVI/107.

KEKUATAN YANG SEBENARNYA

Ketika seseorang akan mencari kekuatan yang bisa diandalkan, yang mampu melindungi diri dari segala bahaya, yang mampu mengantarkan ia kepada apa yang menjadi harapannya, haruslah Dzat yang Maha Kuat, Maha Pemberi Karunia dan Maha pelindung. Dialah Allah, yang barangsiapa bertawakal kepada-Nya, menggantungkan nasib kepada-Nya, baik dalam meraih kemanfaatan atau menampik kemudharatan, maka Allah akan mencukupinya.
Jika Allah telah mencukupi seorang hamba, seberat apapun bahaya, sebesar apapun ancaman, Allah akan menyelamatkan dan menjaganya dari sesuatu yang tidak mampu dicegah oleh manusia atau makhluk apapun juga.
Ibnu Qiyam dalam kitabnya Bada'iul Fawa'id (II / 464) menyebutkan, "Tawakkal adalah sebab yang paling kuat bagi seorang hamba untuk menolak bahaya yang ia tidak sanggup untuk mencegahnya, baik berupa gangguan manusia, kezhaliman atau serangan dari musuh-musuhnya."
Dengan tawakal kepada Allah, seorang hamba juga akan ditolong oleh Allah untuk keluar dari keruwetan persoalan, beban kebutuhan, atau kesulitan yang menghimpit. Tentu saja, tawakal yang dimaksud bukanlah tawakal yang menihilkan ikhtiar dan usaha. Karena tawakal yang benar adalah seperti tawakal seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. Seperti yang kita maklumi, bahwa keluarnya burung dari sarang tersebut adalah untuk berusaha mencari makan.
Jika seseorang telah berusaha secara optimal juga telah bertawakal sepenuhnya kepada Allah, namun belum keluar juga dari problem, bukan berarti Allah lupa akan janjiNya. Allah akan menepati janjiNya pada saatnya yang tepat, dan Allah Maha Tahu, kapan waktu yang paling tepat untuk menetapkan ketentuanNya. Karena diakhir ayat tersebut Allah berfirman :
"Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesunggunya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ( QS Ath-thalaq : 3 ).

BUAH TAWAKAL

Sebagai gambaran dahsyatnya efek dari tawakal, simaklah kisah yang disebutkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab shahihnya, bahwa ada seorang lelaki Bani Israil meminjam uang kepada saudaranya sebanyak seribu dinar.Orang yang dipinjami berkata: " Apakah anda mempunyai saksi? si peminjam menjawab, " Saya tidak mempunyai saksi selain Allah." lalu yang dipinjami berkata, " Baik cukuplah Allah sebagai saksi. Lalu apakah anda memiliki pemberi jaminan? lalu orang itu menjawab: saya tidak mempunyai penjamin kecuali Allah. Lalu yang dipinjami berkata," Baik, cukuplah Allah sebagai pemberi jaminan."
Uang seribu dinar itupun dipinjamkannya. Kemudian sipeminjam pergi setelah mereka berdua menyepakati waktu dan tempat pembayaran. Tempat tinggal mereka dipisahkan oleh sungai besar. Akhirnya waktu yang telah disepakati bersama tiba, si peminjam datang dengan membawa uang pinjamannya untuk dikembalikan. Sambil menunggu perahu penyeberangan, dia berdiri ditepian sungai. Kebetulan pada hari itu tak satupun perahu yang merapat ke dermaga. Malampun tiba, diapun tinggal ditempat itu untuk beberapa lama, namun belum juga ada orang yang dapat menyeberangkannya. Dengan penuh harap, akhirnya dia memohon kepada Allah, " Ya Allah, dia meminta kepadaku saksi, namun aku tidak mendapatkan saksi selain Engkau, dia juga memintaku orang yang memberikan jaminan, namun aku tidak mendapatkan penjamin selain Engkau. Ya Allah sampaikan surat ini kepadanya."
Diapun mengambil sepotong kayu, kemudian dibelah dan seluruh uang itu dia masukkan kedalamnya beserta sepucuk surat.Setelah itu kayu diikatnya kuat-kuat, lalu dilemparkannya kesungai itu. Dengan izin, kebaikan dan pertolongan Allah, kayu itu bergerak menuju seberang.
Pada saat yang sama orang yang meminjamkan itupun juga datang menunggu janji sahabatnya itu. Dia berdiri ditepi sungai sambil menunggu, namun sahabatnya tak kunjung tiba. Katanya dalam hati: " Daripada pulang dengan tangan hampa mengapa tidak mengambil kayu bakar untuk keluargaku di rumah? Diapun melihat kayu bakar mengambang ditepian sungai. Kayu itupun dibawanya pulang. Setibanya dirumah kayu itupun dibelahnya, dan ternyata dia mendapatkan uang dinar dan sepucuk surat didalamnya."
Begitulah setelah pikiran dicurahkan, usaha telah dimaksimalkan, jalan keluar juga telah mentok, tawakal kepada Allah menjadi satu-satunya pilihan.Meskipun, untuk tawakal tidak perlu menunggu waktu kepepet dan kondisi sulit. Dalam setiap keadaan, kita butuh kecukupan dari Allah, sesering itu pula kita perlu bertawakal kepadaNya. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar