12 Apr 2009

SEBUAH RENUNGAN

Tukang bakso yang cerdas
Disuatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah. Hujan rintik-rintik sering menyertai setiap sore di musim hujan ini. Tatkala tangan berlumuran tanah kotor, terdengar suara tek...tek.....tek, suara tukang bakso dorong lewat. Kupesan beberapa mangkok untukku dan anak-anak.
Selesai makan bakso lalu aku membayarnya...

Ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika tukang bakso menerima uang dari saya. Si tukang bakso memisah-misahkan uang yang ia terima dari saya. Yang satu disimpan di laci, yang satu di simpan di dompet dan yang satu lagi disimpan di celengan. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku.
" Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?"
" Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung kurang lebih 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman".
" Maksudnya ....mang ?" saya melanjutkan bertanya.
Iya pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3 dengan pembagian sebagai berikut:

1. Uang yang masuk kedompet, artinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk kelaci, artinya untuk infak / sedekah atau untuk melaksanakan ibadah korban. Dan Alhamdulillah selama menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena Emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Dimana Islam mewajibkan umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji, dan ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri setuju dengan hasil jualan bakso ini Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan Insya Allah selama 17 th menabung, sekitar 2 th lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang cerdas dan sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si Emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung dibalik ketidak mampuan atau belum ada rejeki. Terus saya bertanya lagi sbb :
" Iya memang bagus..,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam hal biaya kan Mang ...?"
Itulah sebabnya pak, Emang malu kalau bicara soal mampu dan tidak mampu ini. Karena devinisi mampu bukan hak pak RT, bukan hak Pak Camat ataupun MUI. Devinisi "MAMPU"adalah sebuah devinisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendevinisikan sendiri.

Kalau kita mendefinisikan diri sebagai orang tidak mampu, mungkin selamanya kita menjadi manusia yang tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendevinisikan diri sendiri " mampu "
maka dengan kekuasaan dan kewenanganNya pada kita, Insya Allah kita mampu.
Masya Allah ....sebuah jawaban yang mengharukan dari seorang tukang bakso.
Sahabat.....
Cerita nyata ini sangat sederhana , semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amiiiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar